jakartalantern.com

Your Shopping Cart




Your Cart is currently empty.

   

You are here: Home Content Management Wealth Management
Decrease font size  Default font size  Increase font size 

Type somethings in the text box below to begin searching

Wealth Management E-mail
Written by Administrator   
Sunday, 17 April 2011 05:02

Wealth Management


Dalam pengembangan bisnis wealth management terdapat tiga pilar utama. Pertama, melindungi dan menjaga kekayaan. Kedua, mengembangkan dan menghimpun kekayaan. Ketiga, distribusi dan peralihan kekayaan, adapun kekayaan dimaksud adalah kekayaan nasabah.  Untuk dapat meningkatkan pertumbuhan bisnis di bidang wealth management dalam rangka mendukung ketiga pilar tersebut maka diperlukan sumberdaya manusia yang kompeten, pengembangan produk dan sistem informasi yang baik guna  mendukung pertumbuhan bisnis wealth management yang berkelanjutan. 


Untuk dapat tumbuh bisnis wealth management diperlukan peningkatan penjualan produk-produk wealth management dan dibutuhkan wealth manager yang berkompeten serta memiliki sikap pelayananan yang berkualitas.  Dari sisi Bank  perlunya  mengembangan bisnis wealth management adalah untuk meningkatkan value dan kepuasan nasabah, meningkatkan profit center berupa pendapatan fee base income dan dapat memenangkan persaingan bisnis, sedangkan dari sisi nasabah dapat meningkatan kekayaan melalui pengembangan investasinya secara optimal sesuai risk appetitenya.  Secara umum nasabah memiliki reaksi yang berbeda terhadap resiko, beberapa yang mau menerima resiko dan yang lain takut dengan resiko.  Apabila dikaitkan dengan preferensi nasabah terhadap resiko, maka resiko dibedakan menjadi 3 (tiga) yaitu : (1) Nasabah yang menyukai resiko atau pencari resiko (risk seeker), nasabah ini jika dihadapkan dengan dua pilihan investasi dengan tingkat pengembalian yang sama dengan resiko yang berbeda, maka nasabah tersebut lebih suka mengambil investasi dengan resiko yang lebih tinggi dengan harapan pengembalian investasi lebih tinggi, nasabah seperti ini cenderung agresif dan spekulatif dalam mengambil keputusan investasi karena mengetahui bahwa hubungan tingkat pengembalian dan resiko adalah positip. (2) Nasabah yang netral terhadap resiko (risk neutral)  nasabah ini umumnya meminta kenaikkan tingkat pengembalian yang sama untuk setiap kenaikan resiko, nasabah ini cukup fleksibel dan bersikap hati-hati (prudent) dalam mengambil keputusan investasi.  (3) Nasabah yang tidak menyukai resiko atau menghindar resiko (risk averter) nasabah ini apabila dihadapkan pada dua pilihan investasi yang memberikan tingkat pengembalian yang sama dengan resiko yang berbeda, maka nasabah lebih suka mengambil investasi dengan resiko yang rendah, dan biasanya nasabah ini cenderung mempertimbangkan keputusan investasinya secara matang dan terencana.

Permasalahan dalam yang muncul di lapangan bahwa kurangnya nasabah prioritas/private banking diberikan assessment secara berkelanjutan atas profil risk yang dimiliki terkadang terjadi mis-selling, dimana pemasaran produk-produk wealth management tidak tepat sasaran karena adanya konflik antara tujuan bisnis dengan resiko. Untuk itu diperlukannya edukasi risk dan retun dan karakteristik produk-produk investasi yang berkelanjutan kepada nasabah prioritas/private banking , sehingga nantinya toleransi resiko nasabah terhadap produk-produk wealth management yang diperkenalkan/ditawarkan dapat  dengan mudah diakomodasi oleh nasabah .  Pemahaman resiko dibalik retun (imbal hasil) yang diperoleh oleh nasabah adalah menjadi suatu yang penting, dalam investasi kita mengenal “high return  high risk  dan low return low risk“ makin tinggi harapan akan suatu hasil investasi semakin tinggi pula kemungkinan muncul resiko atau sebaliknya.  Resiko terbesar dalam berinvestasi adalah hilangnya seluruh nilai investasi yang ditanamkan, sebagai contoh, hal ini mungkin terjadi jika penerbit obligasi yang dibeli perusahaannya bangkrut atau terdapat kemungkinan bahwa saham yang dimiliki tersebut tidak mempunyai nilai lagi, karena emittennya mengalami kebangkrutan.  Disini diperlukan kehati-hatian dalam memilih instrumen investasi , karena itu dalam berinvestasi diperlukan pengetahuan mengenai karakteristik potensi keuntungan serta resiko dari masing-masing instrumen yang akan dipilih.

Fluktuasi harga-harga untuk instrumen investasi seperti obligasi dan saham dari waktu ke waktu mencerminkan tingkat resiko dari instrumen yang bersangkutan dan dapat dilakukan perhitungan statistik, yang disebut dengan standard deviasi (penyimpangan). Perhitungan standar deviasi ini memberikan ilustrasi besarnya tentang penyimpangan harga-harga instrumen investasi tersebut terhadap harga rata-ratanya. Semakin pendek jangka waktu investasi maka semakin besar standard deviasi yang berarti resikonya semakin besar, sementara semakin panjang waktu investasi maka standard  deviasinya makin kecil atau resikonya makin kecil, hal ini dalam investasi dikenal Time Horizon Investasi, dimana ketidak pastian hasil investasi dapat diminimalisir dengan memperpanjang jangka waktu investasi. Untuk mengelola investasi dengan baik yang mempertimbangkan risk dan return yang optimal maka seorang wealth manager harus melakukan managemen portofolio atas investasi nasabah prioritas/private yang dikelola dengan melakukan langkah-langkah sebagai berikut :

  •  Melakukan tujuan investasi dan  risk profil dari nasabah tersebut serta batasan investasinya.
  •  Melakukan strategi investasi yaitu dengan melakukan alokasi asset, dalam hal ini perlu diperhitungkan risk dan return assetnya , dengan melakukan diversifikasi asset, di  dunia investasi dikenal  “ Don’t  put all eggs in one basket “ dimana untuk mengurangi resiko investasi kita perlu menyebar penempatan investasi, sehingga terhindar dari resiko kerugian secara total.
  • Mengimplementasikan strategi dan melakukan monitoring atas kinerja investasinya melakukan risk model dengan menghitung Capital Asset Pricing Model  dan Beta Coefficient ( untuk resiko di saham), Duration Gap (untuk  resiko di obligasi) dan Metode Sharpe,Treynor, dan Jensen (untuk  resiko di Reksa dana).
  •     * Melakukan penyesuaian (rebalancing) atas instrumen investasi yang kurang menguntungkan.

Pengelolaan portopolio ini bersifat dinamis dan dapat berubah disesuaikan kondisi internal nasabah dan faktor fundamental instrument investasi serta kondisi makro ekonomi.

Learn more about Wealth Management, click the icons below to see more detail. 





Related articles :

 

Last Updated on Sunday, 17 April 2011 14:53
 

KutuBuku


Masukkan Code ini K1-AC7Y11-2
untuk berbelanja di KutuKutuBuku.com