| Swine Influenza |
|
| Written by Administrator | ||
| Saturday, 09 May 2009 04:53 | ||
|
Swine Influenza (Flu Babi)
Influenza, biasanya dikenal dengan sebutan FLU, merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh virus RNA famili Orthomyxoviridae (virus influenza), yang menyerang unggas dan mamalia. Swine influenza virus (SIV) merupakan Orthomyxovirus yang bersifat endemik pada populasi babi. Swine Influenza (flu babi) adalah penyakit saluran pernafasan akut pada babi yang disebabkan oleh virus influensa tipe A. Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), secara umum penyakit ini mirip influenza dengan gejala demam, batuk, pilek, sesak nafas, nyeri tenggorokan, lesu, letih dan mungkin disertai mual, muntah dan diare. Penyakit ini dengan sangat cepat menyebar ke dalam kelompok ternak dalam waktu 1 minggu, umumnya penyakit ini dapat sembuh dengan cepat kecuali bila terjadi komplikasi dengan bronchopneumonia (radang paru-paru), akan berakibat pada kematian.
Penyakit virus flu babi pertama dikenal sejak tahun 1918, pada saat itu didunia
sedang terdapat wabah penyakit influenza secara pandemik pada manusia yang
menelan korban sekitar 21 juta orang meninggal dunia. Kasus tersebut terjadi
pada akhir musim panas. Pada tahun yang sama dilaporkan terjadi wabah penyakit
epizootik pada babi di Amerika tengah bagian utara yang mempunyai kesamaan
gejala klinis dan patologi dengan influensa pada manusia. Karena kejadian penyakit ini muncul bersamaan dengan kejadian penyakit epidemik
pada manusia, maka penyakit ini disebut flu pada babi.
Penyebaran virus influenza dari babi ke babi dapat melalui kontak moncong babi,
melalui udara atau droplet. Faktor cuaca dan stres akan mempercepat penularan.
Virus tidak akan tahan lama di udara terbuka. Penyakit bisa saja bertahan lama
pada babi breeder atau babi anakan. Kekebalan maternal dapat terlihat sampai 4
bulan tetapi mungkin tidak dapat mencegah infeksi, kekebalan tersebut dapat
menghalangi timbulnya kekebalan aktif. Transmisi inter spesies dapat terjadi,
sub tipe H1N1 mempunyai kesanggupan menulari antara spesies terutama babi,
bebek, kalkun dan manusia, demikian juga sub tipe H3N2 yang merupakan sub tipe
lain dari influensa A. H1N1, H1N2 dan H3N2 merupakan ke 3 subtipe virus
influenza yang umum ditemukan pada babi yang mewabah di Amerika Utara, tetapi
pernah juga sub tipe H4N6 diisolasi dari babi yang terkena pneumonia di. Manusia dapat terkena penyakit influenza
secara klinis dan menularkannya pada babi. Kasus infeksi sudah dilaporkan pada
pekerja di kandang babi di Eropa dan di Amerika. Beberapa kasus infeksi juga
terbukti disebabkan oleh sero tipe asal manusia. Penyakit pada manusia umumnya
terjadi pada kondisi musim dingin. Transmisi kepada babi yang dikandangkan atau
hampir diruangan terbuka dapat melalui udara seperti pada kejadian di Perancis
dan beberapa wabah penyakit di Inggris. Babi sebagai karier penyakit klasik di
Denmark, Jepang, Italy dan kemungkinan Inggris telah dilaporkan.
Virus ini erat kaitannya dengan
penyebab swine influenza, equine influenza dan avian influenza (fowl plaque).
Ukuran virus tersebut berdiameter 80- 120 nm. Selain influenza A, terdapat
influenza B dan C yang juga sudah dapat diisolasi dari babi. Sedangkan 2 tipe
virus influenza pada manusia adalah tipe A dan B. Kedua tipe ini diketahui
sangat progresif dalam perubahan antigenik yang sangat dramatik sekali (antigenik
shift).
Pergeseran antigenik tersebut sangat berhubungan dengan sifat penularan secara
pandemik dan keganasan penyakit. Hal ini dapat terjadi seperti adanya
genetic reassortment antara bangsa burung dan manusia. Ketiga tipe virus yaitu influensa A, B, C adalah virus yang mempunyai bentuk
yang sama dibawah mikroskop elektron dan hanya berbeda dalam hal kekebalannya
saja. Ketiga tipe virus tersebut mempunyai RNA dengan sumbu protein dan
permukaan virionnya diselubungi oleh semacam paku yang mengandung antigen
haemagglutinin (H) dan enzim neuraminidase (N).
Peranan haemagglutinin adalah sebagai alat melekat virion pada sel dan
menyebabkan terjadinya aglutinasi sel darah merah, sedangkan enzim
neurominidase bertanggung jawab terhadap elusi, terlepasnya virus dari sel darah
merah dan juga mempunyai peranan dalam melepaskan virus dari sel yang
terinfeksi. Antibodi terhadap haemaglutinin berperan dalam mencegah infeksi
ulang oleh virus yang mengandung haemaglutinin yang sama. Antibodi juga
terbentuk terhadap antigen neurominidase, tetapi tidak berperan dalam
pencegahan infeksi. Influensa babi yang terjadi di Amerika Serikat disebabkan
oleh influensa A H1N1, sedangkan di banyak negara Eropa termasuk Inggris,
Jepang dan Asia Tenggara disebabkan oleh influensa A H3N2. Banyak isolat babi
H3N2 dari Eropa yang mempunyai hubungan antigenik sangat dekat dengan A/Port
Chalmers/1/73 strain asal manusia. Peristiwa rekombinan dapat terjadi, seperti
H1N2 yang dilaporkan di Jepang kemungkinan berasal dari rekombinasi H1N1 dan
H3N2. Peristiwa semacam ini juga
dilaporkan di Italy, Jepang, Hongaria, Cekoslowakia dan Perancis. BEVERIDGE
(1977) melaporkan bahwa pada tahun 1935, WILSON MITH menemukan virus influenza
yang dapat ditumbuhkan dengan cara menginokulasikannya pada telor ayam berembrio
umur 10 hari. Setelah diuji dalam 2 hari, cairan alantoisnya mengandung virus
sebanyak 10.000 juta (1010) partikel karena virus tersebut dapat menyebabkan
aglutinasi sel darah merah, maka dari kejadian tersebut dikembangkan uji HA dan
HI. Teknik ini kemudian digunakan sebagai cara yang termudah untuk digunakan di
laboratorium. Setelah penemuan tersebut banyak para peneliti tertarik untuk
mempelajari virus influenza. Oleh sebab itu, sekarang banyak ilmu pengetahuan
mengenai virus influeza telah diungkapkan dibandingkan dengan virus lainnya
yang menyerang manusia. Virus influenza selain dapat ditumbuhkan dalam telur
berembrio juga dapat ditumbuhkan pada sejumlah biakan jaringan (sel lestari)
seperti chicken embryo fibroblast (CEF), canine kidney (CK), Madin-Darby canine
kidney (MDCK).
Pada kejadian wabah penyakit, masa inkubasi sering berkisar antara 1-2 hari,
tetapi bisa 2-7 hari dengan rata-rata 4 hari. Penyakit ini menyebar sangat
cepat hampir 100% babi yang rentan terkena, dan ditandai dengan apatis, sangat
lemah, enggan bergerak atau bangun karena gangguan kekakuan otot dan nyeri
otot, eritema pada kulit, anoreksia, demam sampai 41.8oC. Batuk sangat sering
terjadi apabila penyakit cukup hebat, dibarengi dengan muntah eksudat lendir,
bersin, dispnu diikuti kemerahan pada mata dan terlihat adanya cairan mata.
Biasanya sembuh secara tiba-tiba pada hari ke 5-7 setelah gejala klinis.
Terjadi tingkat kematian tinggi pada anakanak babi yang dilahirkan dari induk
babi yang tidak kebal dan terinfeksi pada waktu beberapa hari setelah
dilahirkan. Tingkat kematian pada babi tua umumnya rendah, apabila tidak
diikuti dengan komplikasi. Total kematian babi sangat rendah, biasanya kurang
dari 1%. Bergantung pada infeksi yang mengikutinya, kematian dapat mencapai
1-4 %. Beberapa babi akan terlihat depresi dan terhambat pertumbuhannya. Anak-anak
babi yang lahir dari induk yang terinfeksi pada saat bunting, akan terkena
penyakit pada umur 2-5 hari setelah dilahirkan, sedangkan induk tetap
memperlihatkan gejala klinis yang parah. Pada beberapa kelompok babi terinfeksi
bisa bersifat subklinis dan hanya dapat dideteksi dengan sero konversi. Wabah
penyakit mungkin akan berhenti pada saat tertentu atau juga dapat berlanjut
sampai selama 7 bulan. Wabah penyakit yang bersifat atipikal hanya ditemukan
pada beberapa hewan yang mempunyai manifestasi akut. Influensa juga akan
menyebabkan abortus pada umur 3 hari sampai 3 minggu kebuntingan apabila babi
terkena infeksi pada pertengahan kebuntingan kedua. Derajat konsepsi sampai
dengan melahirkan selama tejadi wabah penyakit akan menurun sampai 50% dan
jumlah anak yang dilahirkan pun menurun.
FLU BABI PADA MANUSIA
Orang yang bekerja dengan unggas dan babi memiliki resiko yang tinggi untuk terpapar penyakit infeksi menular antara hewan dan manusia (zoonosis). Pernah dilaporkan kejadian transmisi influenza dari babi ke pekerja, pada tahun 2004 oleh Universiti of Iowa. Kejadian wabah pada tahun 2009 ini merupakan reassortment nyata pada beberapa strain influeanza A subtipe H1N1, termasuk strain endemik pada manusia dan dua strain endemik pada babi, seperti avian influenza. CDC melaporkan bahwa gejala dan transmisi flu babi dari manusia ke manusia terjadi seperti kejadian flu musiman, demam seperti biasa, kehilangan nafsu makan, keletihan dan batuk. Beberapa mengalami sakit tenggorokan, mual, muntah dan diare. Penyakit bisa menular dari leleran yang tersebar melalui bersin, batuk dari penderita. Flu babi tidak dapat menyebar melalui produk-produk babi, artinya tidak ditularkan melalui makanan. Flu babi pada manusia paling berpeluang menular pada 5 - 10 hari pertama setelah terinfeksi, terutama pada anak-anak dan pada saat kondisi tubuh lemah. PENCEGAHAN Untuk pencegahan infeksi, direkomendasikan untuk mencuci tangan sesering mungkin dengan menggunakan sabun sanitizer berbahan dasar alkohol, terutama jika bepergian di tempat umum. Hindari menyentuh mata, hidung, mulut sebelum membersihkan tangan terlebih dahulu. Jika batuk, tutup dengan tissue dan buang segera ke tempat sampah, dan cuci tangan kembali. Virus flu babi rentan terhadap obat-obat seperti amantadine, rimantadine, oseltamivir dan zanamivir, namun untuk wabah 2009 ini, direkomendasikan pengobatan menggunakan oseltamivir dan zanamivir. Vaksin untuk manusia H1N1 tidak efektif melindungi terhadap H1N1 flu babi, walaupun strain virusnya sama, namun secara antigentik berbeda. Beberapa
referensi penting dan terpercaya tentang Swine influenza :
Semoga bermanfaat sebagai sumber berita atau rujukan. |
||
| Last Updated on Friday, 21 August 2009 05:15 |
List All Products |
|
|
Advanced Search |
|
| Lost Password? | |
| Forgot your username? | |
|
|
|
| Download Area |