| Desain Vaksin Hepatitis B untuk Indonesia |
|
| Written by Administrator | ||||
| Friday, 10 July 2009 07:32 | ||||
|
Desain
Vaksin Hepatitis B untuk Indonesia VAKSINASI hepatistis
B yang selama ini dilakukan mampu menurunkan angka kesakitan. Namun,
keberhasilan vaksinasi terancam oleh adanya escape mutant atau virus mutasi
yang lolos. Hal ini antara lain akibat vaksin yang dibuat bukan berdasarkan
galur virus lokal sehingga antibodi yang terbentuk tidak mampu membunuh virus
hepatitis B yang ada.
Seorang peneliti senior dari Lembaga Biologi Molekuler Eijkman dr David Handojo
Muljono PhD SpPD mengusulkan desain vaksin hepatitis B yang cocok untuk
Menurut David, infeksi hepatitis B merupakan problem kesehatan masyarakat di
seluruh dunia. Diperkirakan ada 350 juta carrier (pengidap) di dunia.
Pada penderita hepatitis B kronis, bisa timbul komplikasi seperti sirosis
(pengerasan hati) dan kanker hati.
Prevalensi rata-rata hepatitis B di Indonesia 10 persen. Variasi berkisar
3,4-20,3 persen di setiap daerah. Di luar Jawa, kecuali Lombok dan
Upaya vaksinasi mampu menurunkan jumlah pengidap virus hepatitis B dan angka
kesakitan akut. Pemerintah
Namun, upaya ini menghadapi tantangan, yaitu adanya nonresponder atau orang
yang divaksinasi, tetapi tidak tumbuh antibodinya. Penyebabnya, bisa karena
vaksin kurang imunogenik atau vaksin mudah mengalami netralisasi. Selain itu,
muncul varian dan mutan dari virus hepatitis B.
“Mutan dan varian ini bisa tidak terdeteksi oleh tes yang ada, bisa bereplikasi
dalam tubuh orang yang telah divaksinasi. Hal ini telah dilaporkan beberapa
negara. Yang perlu diwaspadai adalah timbulnya escape mutant, yaitu
mutasi pada seseorang yang punya kekebalan,” ujar David.
Varian adalah bentuk berbeda-beda dari virus yang terjadi secara alami lewat
proses seleksi dalam waktu cukup lama. Di setiap ras atau wilayah geografi, ada
populasi virus hepatitis B yang bertahan, ada yang terhambat sehingga varian
virus yang berkembang di setiap daerah/ras berlainan.
Mutasi virus terjadi dalam waktu yang lebih pendek. Hal itu terjadi karena
tekanan dari host akibat daya tahan tubuh, misalnya, karena diberi antibodi
monoklonal atau divaksinasi.
Sejumlah escape mutant ditemukan di seluruh dunia. Di Indonesia, mutasi terjadi
antara lain pada determinan alfa, pada asam amino 129, 130, 138, 142, 143, 144,
dan 145.
Selain itu, ditemukan DNA virus hepatitis B pada orang yang telah divaksinasi. Penelitian dilakukan pada 66 anak yang divaksinasi tahun 1987-1991 di Lombok—tetapi masih menunjukkan jejak virus hepatitis B dalam tubuhnya. Ibunya juga diteliti. Hasilnya, ditemukan mutasi gen S pada 18 contoh darah anak dan 12 contoh darah ibu. “Sebaiknya, vaksinasi hepatitis B dilakukan dengan vaksin rekombinan yang didesain dari strain/galur lokal. Vaksin yang bukan berdasarkan galur lokal tidak menimbulkan kekebalan terhadap virus lokal, bahkan menimbulkan escape mutant,” papar David.
Pertama, vaksin konvensional yang mengandung virus hepatitis B serotipe adr dan
ayw dari genotipe B atau C ditambah galur virus yang mengandung mutasi G145R (escape
mutant). Kedua, campuran virus hepatitis B serotipe adr dan ayw dari genotipe B atau C ditambah gen Pre-S2 dari protein selubung virus hepatitis B genotipe B dan C di Indonesia. Usulan desain itu didasarkan pada penelitian serologi di Yang terhitung jarang ditemukan adalah ayr. Baru-baru ini ditemukan pada contoh darah dari Kutai, Kalimantan Timur, yang diambil tahun 2000. Serotipe itu sama dengan yang ditemukan di Kecamatan Bayan, Saat ini diketahui ada tujuh genotipe hepatitis B, yaitu A,B,C,D,E,F, dan G. Genotipe B dan C banyak di Asia, terutama di bagian timur, sedang genotipe G baru diidentifikasi tahun 2000 dari contoh darah penduduk AS. Setelah memetakan serotipe virus hepatitis B, tahun ini Lembaga Eijkman mulai meneliti distribusi genotipe virus hepatitis B di Indonesia. Penelitian awal memastikan, genotipe B dan C ada di Indonesia. “Vaksin hepatitis B yang ideal adalah yang imunogenik (menimbulkan kekebalan), menimbulkan perlindungan total terhadap pelbagai galur virus hepatitis B, serta mampu menundukkan escape mutant,” ujar David. Pengkajian kembali terhadap cara penapisan darah terhadap hepatitis B diperlukan. Pasalnya, hasil pemeriksaan terhadap 310 contoh donor darah yang lolos tes hepatitis B ternyata ada 25 contoh yang mengandung DNA virus hepatitis B saat diperiksa dengan nested Polymerase Chain Reaction (PCR). (atk)
Related Article : 3. Apakah Thimerosal Vaksin Hepatitis B
penyebab Autisme ? 4. Tato bisa menularkan virus, termasuk virus
Hepatitis. 5. Hepatitis
B menyerang tanpa pandang bulu
|
||||
| Last Updated on Saturday, 10 October 2009 03:50 |
List All Products |
|
|
Advanced Search |
|
| Lost Password? | |
| Forgot your username? | |
|
|
|
| Download Area |