| Hepatitis C |
|
| Written by Administrator | ||||
| Monday, 06 July 2009 13:55 | ||||
Hepatitis C
Ulah penyakit ini
mirip agen rahasia. Siapa yang terinfeksi bisa bertahun-tahun tak merasakan
adanya serangan. Baru setelah berada di ruang periksa dokter, jrrreeeng ...
keberadaannya terbongkar. Ia terkena hepatitis C. Dibandingkan dengan hepatitis A
dan B, hepatitis C memang kalah tenar. Tapi di mata dokter, ia jauh lebih
bengal, karena susah dicegah maupun diobati. Jika si A atau si B bisa dicegah
dengan vaksin, untuk hepatitis C justru belum ditemukan vaksinnya. Pengidap hepatitis C di seluruh
dunia diperkirakan mencapai 170 juta orang. Sedangkan di Indonesia, jumlahnya sekitar 6 - 7
juta, atau 3% dari total penduduk Indonesia. Karena reputasinya yang sulit disembuhkan, angka
itu jelas sangat merisaukan. Tambah merisaukan, karena mayoritas penderita ternyata berasal dari
kalangan usia produktif. Menurut catatan, sekitar 10 - 20%
penderita infeksi akan sembuh sendiri karena dilawan oleh reaksi kekebalan
tubuh. Namun, sisanya 80 - 90%, akan terus menggerogoti liver atau hati dan
menjadi kronis. Jika dibiarkan, kira-kira 25 - 35% akan menjadi sirosis hati
(hati mengeras) dan karsinoma (kanker hati) yang bisa mengancam jiwa. Menumpang sisir
Cara penularan : Pertama, lewat
tranfusi darah. Hal ini terutama perlu diwaspadai oleh mereka yang
menjalani tranfusi sebelum tahun 1990-an. Pada masa itu, belum bisa dipastikan
apakah darah pendonor telah terkontaminasi virus hepatitis C atau tidak.
Soalnya, metode pemeriksaannya (anti-HCV) belum dikembangkan. Kedua, lewat pemakaian bersama, persis seperti penularan
HIV. Menurut Prof. Dr. dr. Suwandhi Widjaja, Sp.P.D., dari Rumah Sakit
Medistra, Jakarta, kelompok paling rentan adalah pemakai narkoba suntik,
tindik, atau tato. Menurut
pengalamannya, golongan usia antara 20 - 30 tahun menempati peringkat pertama
dalam urusan jumlah. "Saya punya bukti tentang ini," tandasnya sambil
menunjukkan data di notebook-nya. Ketiga, pemakaian bersama alat perawatan tubuh, seperti silet cukur, sikat gigi, sisir, gunting kuku, dan koin kerok
untuk orang masuk angin. Kelihatannya ini masalah remeh yang sering luput dari
perhatian kebanyakan orang (mudah-mudahan Anda tidak). Sambil mengutip hasil
penelitiannya di Kali Anyar, Jakarta Barat, Suwandhi menambahkan, "Penularan
dalam satu keluarga bukan hanya dugaan, tapi benar-benar terjadi. "Mungkin
terdengar aneh, alat seperti sisir bisa menularkan penyakit itu. Tapi,
"Kalau menyisir-nya keras, kan bisa nggaruk sampai luka," terang guru besar pada Fakultas
Kedokteran Universitas Atmajaya, Jakarta, ini. Begitu pula dengan sikat gigi, silet cukur, dan
gunting kuku, yang sangat mungkin menyebabkan luka, meskipun kecil
dan tidak kelihatan. Ada lagi koin kerokan yang
sangat merakyat itu. "Jangan pinjamkan koin
kerok untuk dipakai bersama," pesannya. Bagi virus ini, luka sekecil apa
pun bisa menjadi jalan masuk yang mudah. Di luar cara-cara di atas, ada
cara penularan lain yang disertai catatan. Pertama, lewat hubungan seksual. Menurut Suwandhi, hepatitis C
relatif kurang menular lewat cara ini dibandingkan dengan hepatitis B.
"Kemungkinannya sangat kecil, sepanjang dilakukan dengan pasangan
tetap," papar doktor lulusan Faculteit Geneeskunde Katholieke Universiteit
Leuven, Belgia, ini. Namun, bila
dilakukan dengan cara berganti-ganti pasangan, garansi ini tidak berlaku. Kedua, penularan vertikal dari ibu ke bayi. Kemungkinannya juga sangat
kecil. Center For Disease Control and Prevention, Amerika Serikat,
bahkan memberikan jaminan bahwa hepatitis C tidak menular lewat air susu ibu
(ini juga berlaku untuk hepatitis B). Suwandhi menambahkan, untuk masyarakat Bisa sembuh
"Kita tidak boleh mengucilkan penderita, apalagi sampai menganjurkan untuk mengeluarkannya dari lingkungan kerja!" lanjut dr. Suwandhi. Dalam pandangannya, stigma masyarakat dapat menjadi kendala negatif dalam memerangi penyakit ini. Contohnya, hingga kini masih banyak orang yang beranggapan penyakit itu adalah vonis akhir sembari menunggu kematian, alias tak ada harapan sembuh sama sekali. Anggapan itu boleh jadi benar jika diucapkan satu dasawarsa lalu. Sebab, terapi interferon biasa waktu itu hanya memberi harapan sembuh sekitar 10 - 15%. Namun, dengan terapi paling mutakhir, angka itu kini telah berubah menjadi sekitar 80% untuk genotipe tipe 2 atau 3. Khusus untuk tipe 1b, harapan sembuh masih fifty-fifty. Hal ini terutama lantaran kelihaian virus ini
berubah-ubah bentuk. Ajian malih rupo alias salin rupa ini didapat karena ia tergolong
virus RNA (ribonucleic acid), sehingga cetak birunya berubah-ubah. Sampai saat ini dikenal ada enam
genotipe yang penyebarannya berbeda-beda. Di Indonesia, paling banyak tipe 1b,
sedang di Afrika tipe 4. Ada genotipe yang memiliki
beberapa subtipe. Karena
itulah, vaksin hepatitis C belum bisa di-ciptakan. Apalagi vaksin hanya bisa
bekerja jika virus tidak mengalami mutasi terus-menerus. Ini berbeda dengan
virus hepatitis B yang tergolong virus DNA (deoxyribonucleic acid). Cetak
birunya relatif stabil dan bagus. Meski demikian, hepatitis C tetap
bisa disembuhkan dengan kombinasi pegylated interferon dan ribavirin.
Sayangnya, teknik pengobatan ini berpotensi memindahkan penyakit dari hati ke
dompet penderita. Sebagai gambaran, harga pegylated interferon dan ribavirin
sekitar Rp 8 - 10 juta per bulan. Sementara pengobatan butuh waktu enam bulan
untuk genotipe 2 dan 3, dan satu tahun untuk genotipe 1B. Tak perlu ambil
kalkulator untuk menghitung. Di luar kepala pun sudah ketahuan, ongkosnya mahal
minta ampun. Kelemahan lainnya, pengobatan
jenis ini memiliki efek sampingan yang bisa membuat kualitas hidup pasien
justru menurun selama menjalani terapi. Saat mendapat suntikan interferon
pertama kali, pasien bisa menggigil, pegal-linu, dan nafsu makan berkurang,
seperti ketika menderita influenza (untungnya, berbagai keluhan ini berkurang
pada suntikan-suntikan berikutnya). Selama pengobatan, ribavirin akan
membuat pasien menjadi kurang darah. Selain itu, interferon juga bisa membuat
pasien mengalami depresi. Karenanya, pengobatan ini tidak dianjurkan untuk
mereka yang mengalami gangguan mental. "Bisa-bisa orang itu bunuh
diri," kata dr. Suwandhi terkekeh. Sialnya lagi, pengobatan ini tetap
tidak bisa memberikan jaminan sembuh 100%. Pada orang-orang tertentu, terapi
ini menghasilkan respons parsial. Saat dibombardir interferon dan ribavirin,
virusnya turun. Namun, begitu obat dihentikan, virusnya langsung nongol lagi.
Bahkan pada sebagian penderita, terapi ini sama sekali tidak menghasilkan
respons. Meski dihajar dengan dua obat itu, virusnya tetap saja mentheleng,
melotot saja. "Ini semua harus
diketahui pasien. Jangan sampai mereka mengeluh. Sudah menghabiskan banyak
uang, kok enggak sembuh-sembuh." Menurut Suwandhi, ada empat faktor yang
mempengaruhi berhasil tidaknya terapi ini. Pertama, tingkat keparahan. Sesuai pengalamannya, semakin dini
ditangani, semakin besar tingkat keberhasilannya. Namun, jika kondisi liver
sudah sampai sirosis, maka hanya 10% yang dapat disembuhkan. Kedua, usia saat terinfeksi.
Jika seseorang terinfeksi pada usia 50-an tahun, maka setelah 10 tahun
kemudian, kondisinya mungkin sudah sirosis. Namun, jika infeksi terjadi pada
usia muda, biasanya dalam jangka 10 tahun kemudian, fungsi livernya masih belum
terlalu mengkhawatirkan. Faktor ketiga, jenis kelamin.
Meski belum diketahui penjelasannya, umumnya laki-laki memberikan respons lebih
jelek daripada perempuan. Faktor terakhir, genotipe virus. Dari berbagai
genotipe yang sudah berhasil dikenali, tipe 1b merupakan genotipe paling bandel
di antara genotipe lain. Karena itulah, angka kesembuhan hepatitis C tipe ini
paling kecil (50%) dengan waktu terapi paling panjang (satu tahun). Obat tradisional
Tak jarang, dokter pun memberikan obat-obat itu buat pasiennya. Mulai dari obat-obat tradisonal Cina atau Jepang yang biasanya mengandung glycyrrhizin dan alkaloid schizandrae, silymarin, hingga temulawak dan meniran. Meski belum bisa disepadankan dengan penelitian internasional, tapi
berdasarkan pengamatan Suwandhi, obat tradisional memang bisa memperbaiki
fungsi hati. Umumnya, pasien mengaku merasa lebih baik. Sayangnya, perbaikan
fungsi hati ini tidak diikuti dengan hilangnya virus dari dalam darah. Itu
sebabnya, hingga kini penelitian yang lebih rinci dengan standar Karena alasan biaya dan tingkat kesulitan terapi inilah, Suwandhi menandaskan, jalan utama memerangi hepatitis C adalah pencegahan dan pencegahan, selain tentunya dengan perbaikan kondisi sosial ekonomi. Persis seperti slogan HIV/ AIDS: "Anda bisa kena, tapi Anda bisa mencegahnya". Masyarakat, komunitas medis, dan pemerintah harus saling mendukung. Hanya dengan kerja sama yang padu, prevalensi (angka kejadian) penyakit hepatitis C dapat diturunkan dan dikendalikan. Setidaknya, mulailah kampanye itu
dari diri sendiri. Misalnya,
hindari penggunaan jarum suntik secara berjamaah. Pun jika ada yang meminjam
silet cukur atau sikat gigi misalnya, Anda tak perlu ragu untuk menolaknya
dengan bahasa yang halus, sehingga calon peminjam tak tersinggung. Contohnya,
"I am Sorry, alat-alat itu sangat pribadi, tidak bisa saya pinjamkan."
Kalau yang bersangkutan masih ngeyel tak mau mengerti juga, tunjukkan artikel ini! |
||||
| Last Updated on Saturday, 10 October 2009 03:55 |
List All Products |
|
|
Advanced Search |
|
| Lost Password? | |
| Forgot your username? | |
|
|
|
| Download Area |