|
Waspadai
Pengapuran Sendi
Jika jari terasa pegal, paling enak memang menarik jari-jari
hingga berbunyi gemeretuk. Begitupun ketika pinggang terasa pegal, langsung
memutir tubuh hingga bunyi gemeretuk. Setelah itu, pegal rasanya hilang
seketika. Tetapi benarkah demikian?
Karena menurut dokter spesialis tulang (orthopedik) RS Siaga, dr Lukman
Shebubakar, jari-jari atau sendi kaki yang suka mengeluarkan bunyi gemeretuk
merupakan pertanda bahwa seseorang menderita pengapuran pada sendi atau
osteoarhritis.
"Berbeda dengan osteoporosis yang berarti pengapuran pada tulang, maka
osteoarhritis adalah pengapuran pada sendi," kata dr Lukman Shebubakar
dalam sebuah seminar tentang osteoarhritis, di Jakarta, belum lama ini.
Dijelaskan, tubuh manusia terdiri atas 206 tulang dan 230 sendi. Osteoarthritis
adalah suatu penyakit sendi menahun yang ditandai dengan adanya kemunduran pada
tulang rawan sendi dan tulang di dekatnya, yang bisa menyebabkan nyeri sendi
dan kekakuan.
"Pengapuran sendi pasti akan dirasakan setiap orang, terutama oleh orang
yang sudah berusia lebih dari 40 tahun. Akan tetapi, hal itu dapat terjadi
lebih dini," ujarnya.
| Osteoarhritis bisa dialami orang dewasa yang pernah mengalami
kecelakaan,
infeksi pada sendi, atau bisa juga pada bayi yang mengalami kelainan
bawaan. "Osteoarhritis bisa terjadi hampir pada semua sendi. Biasanya
terjadi pada
sendi yang biasa menahan beban berat dan juga pada sendi yang sering
digunakan,
misalnya lutut, pinggul, punggung atau tulang belakang, tangan, dan
kaki,"
tuturnya. Gejala yang ditimbulkan dari osteoarhritis datang secara
bertahap. Biasanya
diawali dari satu sendi, adanya nyeri sendi, kesulitan naik dan turun
tangga,
sulit berdiri setelah lama duduk atau jongkok. Orang-orang yang rentan dan berisiko tinggi terkena penyakit itu adalah orang
yang pekerjaannya menimbulkan penekanan berulang pada sendi. "Penyakit
yang timbul jika terjadi pengapuran pada sendi bisa sampai mengakibatkan
berubahnya bentuk sendi," ucapnya. |
Mengapa terjadi pengapuran?
Dr Lukman menjelaskan, sendi lutut merupakan sendi dengan beban kerja yang
cukup berat. Saat berdiri tegak, sendi itu dalam posisi mengunci agar posisi
tubuh stabil. Sedangkan saat berjalan, sendi ini berperan laiknya engsel,
sehingga gerakan kaki menjadi fleksibel.
"Saat kita berlari, atau berolahraga, sendi harus dapat menahan beban
putaran dan daya saat kaki menekuk, melompat atau saat berlari. Hal itu
menunjukkan bahwa sendi lutut memegang peranan penting dalam setiap posisi atau
gerakan tubuh," katanya.
Dijelaskan, dalam sendi lutut, terdapat tiga komponen tulang. Ujung tulang paha
(femur), tulang tungkai bawah (tibia) dan tulang lutut (patella). Pada bagian
ujung dari tulang, terdapat komponen yang disebut dengan tulang rawan.
Tulang rawan berperan melapisi ujung tulang di persendian. Dengan adanya tulang
rawan, ketiga tulang tersebut bertemu, namun tidak terjadi gesekan, dan gerakan
sendi menjadi mulus.
"Sesuai perjalanan usia, pada
orang tua akan terjadi kerusakan pada tulang rawan (kartilago) sendi. Selain
faktor usia, ada juga faktor lain yang dapat mempercepat proses kerusakan. Misalnya
saja infeksi, trauma, aktivitas yang tinggi atau berat badan berlebih,"
katanya.
Jika terjadi kerusakan, maka tulang rawan menjadi tipis dan permukaannya tidak
rata. Akibatnya terjadi gesekan diantara tulang, menimbulkan nyeri. Selain itu
pengapuran sendi lutut, juga dapat disebabkan oleh bentuk sendi yang tidak
normal.
Ia menyebutkan tindakan menekuk keluar (valgus), atau menekuk ke dalam (varus).
Kondisi ini mengakibatkan beban tubuh tidak lagi berada pada tempat yang ideal,
melainkan bergeser ke arah luar atau ke dalam. Bagian yang mengalami beban
berat akan lebih cepat mengalami pengapuran dibanding bagian yang tidak
mendapat beban.
Kerusakan pada tulang rawan mengakibatkan gerakan tidak lagi mulus. Ujung-ujung
tulang bertemu dan bergesekan satu sama lain. Kerusakan tulang rawan merangsang
pertumbuhan tulang baru di dalam sendi, dikenal dengan osteofit. Dengan adanya osteofit, nyeri bertambah
parah, dan tentu saja aktivitas terganggu. Perlu diketahui bahwa selama ini ada di kalangan kalangan awam yang salah
mengartikan pengapuran dengan osteoporosis. Osteoporosis merupakan pengeroposan tulang,
sedangkan ostearthritis adalah kerusakan pada tulang rawan sendi (kartilago).
Untuk menentukan ada tidaknya pengapuran pada sendi, selain melakukan pemeriksaan
fisik, dokter juga akan melakukan pemeriksaan penunjang. Misalnya saja
melakukan foto rontgen. Pemeriksaan ini penting untuk mengetahui kondisi sendi
lutut dan memperkirakan derajat kerusakan.
Jika dicurigai adanya masalah pada jaringan lunak, semisal pada ligamen (urat)
atau pada tendon di daerah sendi lutut, maka akan dilakukan pemeriksaan
Magnetic Resonance Imaging (MRI).
Pemeriksaan itu dapat menemukan adannya robekan, atau penyakit lain, pada
jaringan lunak di daerah lutut semisal otot, tendon atau ligamen. Penyebab
kerusakan beragam diantaranya trauma atau infeksi.
Tentang pengobatan, dr Lukman menyebutkan ada beberapa lini terapi yang
digunakan untuk mengatasi pengapuran pada sendi lutut. Tahap awal biasanya
diberikan obat penghilang rasa nyeri. Obat Anti Inflamasi Non Steroid (AINS),
seminal asam mefenamat,ibuprofen, piroksikam dapat digunakan.
"Efek samping obat jenis ini, terjadi gangguan lambung. Selain itu minum,
dapat diberikan anti nyeri yang dioleskan langsung ke kulit. Berbentuk jel atau
spray disemprotkan langsung di daerah kulit sekitar lutut," katanya.
Jenis AINS yang terbaru dikenal dengan COX-2 inhibitor. Efek samping obat ini
terhadap saluran cerna lebih kecil disbanding dengan obat AINS biasa.
Belakangan diketahui bahwa obat ini menimbulkan risiko jantung dan stroke.
Sehingga penggunaanya pada penderita yang memiliki serangan jantung atau stroke
perlu diwaspadai.
Jika pengobatan kurang mendapatkan hasil, dianjurkan bagi penderita untuk
melakukan fisioterapi. Latihan dapat dilakukan dengan bantuan ahli
fisioterapi,untuk mendapatkan gerak yang normal pada lutut, dan menghilangkan
nyeri. Latihan yang dapat meningkatkan kemampuan otot di sekitar lutut,
sehingga lebih stabil dan posisi tubuh seimbang.
Terapi lain adalah dengan menyuntikan langsung obat ke sendi lutut untuk
menghilangkan rasa nyeri. Efek terapi dapat bertahan hingga beberapa bulan.
Dokter akan mempertimbangkan masak-masak sebelum melakukan tindakan ini, karena
jika terlalu sering malah mengakibatkan kerusakan tulang rawan sendi.
Operasi yang dilakukan bisa melalui operasi arthroscopy, osteotomy,
arthtoplasty, dan arthrodesis. "Selain operasi, terdapat cara penyembuhan
lain yaitu dengan fisioterapi, atau program latihan lain. Selain itu dukungan
psikososial sangat perlu, bahkan dengan cara yang sederhana, yaitu dengan cara
mengonsumsi vitamin Glucosamin, atau dengan olahraga yang tepat," ujarnya.
Ditambahkan, selain itu pentingnya seseorang mempertimbangkan kegiatan dengan
kekuatan sendi yang sesuai dengan umur.
"Untuk orang yang mengalami obesitas atau kegemukan, maka makanan yang
dikonsumsi harus dijaga karena orang yang obesitas cenderung terkena penyakit
ini," terangnya.
Untuk informasi
selengkapnya mengenai kesehatan sendi dan pecegahannya dengan Glucosamin, silahkan anda click di sini, tetapi
sebelum anda perlu login dulu atau create user account jika belum ada.
|